Nur Alam Selayang Pandang
Lahir
di Konda, Konawe Selatan, pada 9 Juli 1967, Nur Alam kecil dibesarkan
dalam lingkungan keluarga sederhana, ditengah zitgeit alam pedalaman
asri bersama tiang-tiang jenggala rindang yang penuh duri, tapi teguh
memagari jalan-jalan setapak tak beraspal dan tak bernama. Di sebuah
pondok berdiding papan sederhana di Konda, Nur Alam lahir dari rahim
suci seorang perempuan biasa, Hj. Fatimah, diasuh dan dibesarkan oleh
ayahnya, Isruddin Lanay, seorang Mantri Kehutanan di era Soekarno. Nur
Alam kecil yang sering dipanggil Bolo - nama kakeknya itu, tumbuh
sebagai anak yang lincah dan gesit bersama anak-anak lainnya, dan selalu
mengambil inisiatif lebih awal di depan sebelum yang lainya memulai
sesuatu. Nur Alam kecil mendaftarkan diri ke SD Negeri Konda atas
inisiatif sendiri, sebelum kemudian difasiitasi oleh orang tuanya. Saat
duduk di bangku kelas II hingga kelas VI SD, Nur Alam kecil menggunakan
nama Andi di depan namanya, hingga menjadi Andi Nur Alam. Sayangnya
gelar Andi itu, yang diberikan oleh salah satu pamannya yang beretnik
Bugis, tak sempat dipakai Nur Alam seterusnya karena sang guru
menghapusnya saat menulis ijazah terakhir usai menamatkan bangku SD. Duduk di bangku SD Nur Alam kecil punya hobby memetik kelapa bersama kakak-kakaknya. Selain kelapa, ia jug sering ikut memetik buah kemiri dari kebun milik ayahnya untuk dijual kepasar. Dari sini, ia memperoleh uang receh untuk jajan, juga kadang buat mentraktir teman-temannya.
Nur Alam kecil mulai meretas kehidupan yang penuh dinamika ketika masuk SMP, tepatnya di SMP Negeri Ranomeeto. Selama setahun, nyaris setiap hari ia harus bolak balik berjalan kaki 5 km bersama anak-anak lainnya menempuh rute bolak balik Konda – Ranomeeto. Ia harus bangun subuh setiap harinya untuk mengejar waktu ke-sekolah. Berangkat ke sekolah pukul 5 subuh, suasana pedalaman ketika itu tentunya masih sangat gelap. Tapi ia tetap menembus dengan obor kecil.
Memasuki bangku kelas II, Nur Alam pindah ke SMP Negeri III Wua-Wua dan tinggal di rumah pamannya di Mandonga. Tinggal di sekitar pasar ‘lama’ Mandonga, Nur Alam kecil punya ide menarik. Sambil bersekolah, ia sewaktu-waktu pulang ke Konda memetik kelapa, kemiri dan hasil kebun lainnya untuk dibawa dan dijual kepasar. Dari sini, ia mendapatkan sedikit uang buat membiayai kebutuhan sekolah dan sebagiannya buat jajan di kantin sekolah.
Duduk di bangku SMP Nur Alam kecil mulai menunjukkan banyak talenta. Ia menjadi juara lomba pidato dan oleh gurunya ia ditunjuk mewakili SMP Negerri III Wua-wua untuk mengikuti lomba kepanduan (pramuka) tingkat Nasional di Cibubur, Jakarta. Sayang sekali, baru saja hendak merangkai talenta kepemimpinan di jalur kepanduan itu, Nur Alam kecil harus menerima nasib sedih. Ia ditinggal pergi sang ayah ketika masih berada di bumi perkemahan Cibubur. Beberapa hari kemudian ia kembali ke Kendari dalam status sudah yatim.
Tahun 1981 Nur Alam masuk SMA Mandonga. Di sekolah yang tergolong keren di Kendari saat itu, ia banyak bertemu teman baru, termasuk siswa-siswa tetangga di SMEA dan STM Negeri Kendari. Sebagai anak yatim yang telah ditinggal pergi sang ayah, ia mulai memikirkan kelanjutan sekolahnya nanti. Ia tak harus menambah beban ibundanya yang memang tengah hidup susah karena hanya mengandalkan gaji pensiun mendiang suaminya. “Saya harus belajar bisnis. Mama juga sudah setengah mati. Saya tidak boleh berhenti sampai SMA”, kenang Nur Alam saaat berkisah tentang masa-masa SMA-nya. Ia lalu merintis usaha sablon kecil-kecilan. H. Nusu Ibrahim, salah seorang rekan Nur Alam di SMA Mandonga ketika itu pernah bercerita bahwa dulunya, i Bolo (Nur Alam maksudnya), punya usaha sablon. Ia kadang tidak masuk disekolah gara-gara sibuk mencari order di luar. Ia biasa mengerjakan undangan pesta, daftar gaji di kantor-kantor dan juga kartu-kartu KRS di kampus Unhalu kemaraya. “Kalo dapat sedikit untung, dia suka traktir kita di kantin SMEA..”, kenang H. Nusu yang sekarang menjadi anggota DPRD di Konawe.
Dari hasil usaha sablon kecil-kecilan, Nur Alam bisa memupuk modal dan membeli mesin fotocopy offset. Usaha percetakan offset ini mulai ditekuninya saat memasuki bangku kelas dua. Meski tetap mengikuti jadwal pelajaran di kelas seperti siswa lain, ia semakin sibuk mengurusi orderan di luar. Berbeda dengan banyak rekannya yang lebih senang hura-hura, Nur Alam ketika itu lebih banyak mencurahkan waktunya mengurus bisnis percetakan di luar jam sekolah. Ini terus dilakukannya hingga naik kelas tiga dan akhirnya tamat SMA Mandonga, lalu lanjut ke universitas Haluoleo di fakultas Ekonomi.
Memasuki jenjang kuliah, naluri bisnis Nur Alam semakin tumbuh. Ia mulai belajar kerja-kerja memborong sebagai kontraktor di PT. Pertiwi Agung pimpinan Umar Saranani. Di perusahaan ini, ia sering ditugaskan ke lapangan mengawasi pekerjaan proyek. Seorang rekan kerjanya, Abu, pernah bercerita bahwa sewaktu kerja di Pertiwi Agung, Nur Alam sering dipercaya pak Umar Saranani untuk membayar gaji karyawan, sambil mengawasi bahan-bahan proyek di lapangan. Lama bekerja di perusahaan ini, Nur Alam lalu pindah bekerja di PT. Timbel Mas milik pengusaha Khairuddin Pondiu. Bakat bisnisnya semakin terlihat. Ia banyak membantu Khairuddin Pondiu menyiapkan administrasi perusahaan dan kelengkapan tender. Sibuk bekerja mengurusi proyek, ia tetap mengikuti kuliah di Fekon Unhalu seperti biasa.
Mendapat sedikit pengalaman jasa kontruksi di dua perusahaan tadi, secara diam-diam Nur Alam membuat perusahaan sendiri. Bersama kerabat dekatnya, Afiat Tawakkal, ia mendirikan PT. Tamalakindo Puri Perkasa, perusahaan yang dikemudian hari sukses menjadikannya pengusaha handal. Setelah menyelesaikan studi di Fekon Unhalu, berkantor di sebuah rumah kontrakan di BTN DPR Wua-Wua, Nur Alam mulai merambah dunia kontraktor. Ia mulai gencar melakukan loby-loby ke berbagai instansi pemerintah, termasuk di kampus Unhalu baru, Anduonohu. Memasuki tahun 1990-an, PT. Tamalakindi Puri Perkasa mulai dipercaya mengerjakan proyek-proyek kontraktual di Diknas Sultra, di Unhalu dan di bebarapa kantor pemerintah lainnya.
Waktu terus bergulir, talenta Nur Alam di dunia bisnis semakin bersinar, terutama setelah menggandengnya dengan dunia politik. Bersamaan dengan karir politiknya yang terus menanjak di PAN Sultra, ia mulai berkenal dengan beberapa elit pimpinan PAN di tingkat pusat. Tak main-main, ia mengakrabkan diri dengan Amin Rais (Ketua MPR-RI/Ketua DPP PAN), Hatta Rajasa (Sekjen PAN, Menteri Perhubungan), Bambang Soedibyo (Menteri Diknas), Yahya Muhaimin, Malik Fajar (Menteri Agama) dan sejumlah petinggi PAN lainnya di era presiden Gus Dur hingga SBY. Dari sini, ia mulai merambah proyek-proyek besar berskala nasional di beberapa daerah di Indonesia, hingga, konon, ditahun 1998-an saja, isi rekeningnya sudah mencapai angka milyaran rupiah. Pada tahun 2002, terkait dengan rencananya maju dalam suksesi Bupati di Konawe ketika itu, Nur Alam pernah memperlihatkan kepada saya sertifikat deposito atas nama dirinya senilai 7 Milyar. Saya sedikit terperanjat. “Ternyata benar isu selama ini, Nur Alam punya banyak duit’, bisik hati saya. Dan, “Itu baru satu lembar yus, masih ada beberapa lembar didalam..”, tambahnya, seolah berusaha meyakinkan saya yang ketika itu masih meragukannya.
Sebelumnya, bersamaan dengan karir bisnisnya yang terus menanjak, kiprahnya di dunia organisasi juga terus bersinar. Di beberapa organisasi profesi, ia dipercaya memimpin Gapensi (Gabungan Pengusaha Konstruksi) dan Kadinda (Kamar Dagang dan Industri Daerah). Selain itu, ia juga aktif di HIPMI, Ardin dan berbagai organisasi sosial lainnya. Setelah terpilih menjadi wakil ketua DPRD Sultra, ia dipercaya mengetuai KONI, organisasi olah raga prestisius yang biasanya dijabat oleh para pejabat penting di daerah. Karir organisasinya yang paling cemerlang tentu saja di Partai Amanat Nasional. Di Partai inilah, karir dirinya sebagai politisi terus menjulang, hingga akhirnya sukses mengantar dirinya menjadi gubernur orang nomor satu di Sultra.
Perjalanan Menuju 01 Sultra
Beberapa hari
setelah Mendagri melantik Nur Alam menjadi Gubernur Sultra, Kendari Pos, harian
terbesar di Sultra, melakukan wawancara
exclusive dengan Nur Alam. Banyak pertanyaan penting yang diajukan wartawan
Kendari Pos ketika itu untuk menggali informasi diseputar sepak terjang Nur
Alam dalam meraih obsesi besarnya menjadi orang nomor satu di Sultra. Dan
seperti biasa, Nur Alam menjawab pertanyaan
wartawan satu per satu dengan lugas, cerdas dan sistematis. Salah satu pertanyaan pokok yang dijawabnya waktu
itu adalah terkait dengan kunci sukses yang menjadi rahasia kemenangannya dalam
pemilukada Sultra yang baru saja berlangsung. Dikatakan oleh Nur Alam, seperti dilansir pada
salah satu edisi Kendari Pos yang terbit sekitar akhir bulan Februari 2008,
yang menjadi kunci sukses utamanya hingga berhasil meraih tahta Gubernur Sultra,
sesungguhnya adalah kerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas dan kerja
tuntas. Dikatakannya : “Di Sultra yang terbatas media informasi dan
komunikasi, kerja keras yang harus dilakukan adalah melakukan sillaturrahmi
dari desa ke desa dalam kurun waktu yang cukup panjang. Saya mengunjungi kurang
lebih 2.000 Desa. Sebanyak 70% desa tersebar di pedalaman atau pelosok yang
sulit dijangkau. Tidak semua Desa bisa dilalui dengan kendaraan bermotor.
Bahkan kadang-kadang saya berjalan kaki, naik kuda atau naik perahu kecil.
Bayangkan saja, saya mengunjungi sebuah pulau yang membelah Laut Banda dengan
ombak besar. Dan itu tingkat kesulitannya tinggi. Untuk itu dibutuhkan
keseriusan dan kenekatan. Kerja keras itu tentu tidak akan berjalan dengan baik
jika saya melakukannya dengan tidak ikhlas. Adalah manusiawi bila seseorang seperti
saya punya obsesi dan ambisi. Ambisi dan obsesi itu bisa tercapai dan bisa saja
tidak. Karena itu, perlu dilandasi dengan keikhlasan. Selain kerja keras, kerja
ikhlas, juga harus cerdas melihat peluang-peluang yang bersifat internal dan
eksternal. Terakhir, dalam bekerja harus tuntas. Saya tidak boleh berhenti atau
menyerah menghadapi tantangan dan kesulitan..”.
‘Kerja dan terus bekerja’ adalah shortcut utama dari keseluruhan
menu keberhasilan Nur Alam yang terekam dalam petikan hasil wawancara di atas.
Sebuah perjalanan yang penuh liku, penuh duri, dan penuh keringat bercucuran di
darat dan di lautan, telah membentang cukup panjang di pelupuk mata Nur Alam
sebelum akhirnya bisa melenggang ke kursi gubernur secara elegan dan bermartabat. Inilah yang membuat dirinya tak bisa
menahan isak tangis ketika di sore hari menjelang magrib pada hari ‘H’
pemungutan suara, Jaringan Survey Indonesia (JSI) pimpinan Mas Widy, memberinya
informasi dini bahwa dirinya menang satu putaran atas pasangan calon gubernur
lainnya. Meski belum ada pengumuman resmi dari KPU Sultra, tapi informasi dari
JSI itu membuatnya yakin bahwa apa yang diperjuangkannya selama ini, selama
bertahun-tahun, telah dikabulkan oleh Allah SWT. Di sore hari itu, ia pun
menangis tersedu-sedu bak anak kecil di tengah para pengikutnya yang ikut
menetaskan air mata. Sebuah perjuangan yang cukup panjang, telah mulai berbuah
manis di pelupuk mata. Demikianlah, seperti sekilas tergambar pada lukisan
peristiwa berikut ini.
Sehari setelah Ali Mazi, SH
dilantik sebagai Gubernur Sultra menggantikan Laode Kaimoeddin pada awal tahun
2003, Nur Alam memilih berangkat ke Jakarta. Sambil beristrahat dan menangani
beberapa urusan bisnis yang sempat terbengkalai akibat terlalu lama concern
mengurusi demo-demo anti money politic yang diduga dilakukan oleh Ali Mazi dalam pemilihan gubernur di DPRD Sultra,
Nur Alam secara diam-diam mendatangi sebuah toko digital printing di Jakarta. Di tempat itu ia ternyata sedang meminta
dibuatkan sebuah Baliho kecil berukuran 80 x 100 cm yang bergambar foto
dirinya. “Tulis dibawah foto itu, Nur
Alam – Gubernur Sulawesi Tenggara Periode 2008 – 2013..”, pintanya pada
designer grafis yang duduk menghadap computer di toko itu.
Beberapa hari berikutnya, Nur
Alam kembali ke Kendari dengan membawa gulungan Baliho kecil tadi. Baliho itu
lalu dipajangnya di belakang kursi biro di ruang kerja rumah pribadinya di Wua-Wua.
Setelah itu, perlahan Ia mundur ke belakang dan duduk termenung seorang diri di
atas kursi sofa sambil menatap dalam-dalam foto dirinya di atas kanvas Baliho
tadi. Tak terkira air matanya menitik. “Ya Allah, kabulkanlah…”, bisiknya dalam
hati terhenyuh setelah beberapa menit terbuai di dalam mimpi yang besar untuk
menjadi orang nomor satu di Sultra. Sesaat berlalu, konsentrasinya buyar setelah ibu Tina, istrinya,
tiba-tiba muncul dengan sejemput tawa kecil yang bernada sinis : “Hah, apa-apaan tuh pa’. Duuuh, papa ini
ada-ada saja. Ali Mazi kan baru saja dilantik..”. Nur Alam tak meladeni sinisme
itu, selain dengan senyum yang mengulum pahit. “Tak ada yang mustahil kalau Allah menghendaki ma’, cetusnya ringan
sambil berlalu keluar kamar.
Salah satu watak dasar Nur Alam
dalam meraih sesuatu obsesi atau keinginan adalah bahwa ia takkan pernah mundur
sejengkalpun dalam mengejarnya, sampai obsesi itu diketahuinya telah berhasil
atau, sebelaiknya, telah gagal dicapainya. Seperti kata pepatah “Sekali
layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”, Nur Alam tak pernah mundur di tengah jalan
bila telah menancapkan tekad untuk berjalan. Dalam bahasa Islam, watak seperti
ini disebut oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an : ‘Faidzaa azamta, fatawakkal ‘alallah’, bila telah menetapkan
sesuatu, maka berserah dirilah kepada Allah’. Demikianlah, ketika telah
terlanjur menetapkan niat dalam hati untuk menjadi gubernur, Nur Alam tak
pernah berhenti berhayal dan berfikir. Siang malam ia menghadirkan mimpi sedang
berada di atas singgasana gubernur itu di pelupuk matanya. Dan ia tak pernah
merasa risih ketika seringkali disindir oleh rekan-rekannya yang sempat melihat baliho kecil di kamar kerja
pribadinya. “Biarlah kalian mengejekku,
tapi saya tidak akan berhenti..”, bisiknya dalam hati acap kali melihat
rekan-rekannya saling mengedipkan mata usai membaca sebaris kalimat di baliho
kecil tadi.
Waktu terus berjalan, hingga
pada suatu waktu di tahun 2004, atau sekitar 3 (tiga) tahun menjelang pelaksanaan
Pilkada langsung pertama gubernur Sultra, dalam sebuah diskusi kecil di rumah
pribadinya di Wua-Wua, Nur Alam sempat bergumam di depan saya dan beberapa
teman lain yang kebetulan secara tak sengaja datang bersamaan ke ruang tamu bagian
belakang untuk sekedar bersillaturrahmi : “Yus,
saya mau maju menjadi calon gubernur. Saya sudah siap. Dan oya, dukunglah saya
Yus, karena saya sudah melihat tanda-tanda bahwa saya akan menang..”.
Kata-kata itu diucapkannya rileks dalam posisi berdiri dengan mengenakan celana
puntung. Jujur, kata-kata itu tak
menarik bagi saya. Karena, waktu itu, saya tak melihat peluang yang cukup
mungkin bagi seorang yang masih terlalu hijau seperti Nur Alam untuk bisa
menjadi gubernur, apalagi harus melawan calon incumbent sekuat Ali Mazi.
Sementara, waktu itu, Nur Alam hanya menyandang jabatan Wakil Ketua DPRD Sultra.
Setahun sebelumnya, di tempat yang sama, Nur Alam juga pernah mencoba
melontarkan gagasan untuk ikut maju dalam Pilkada Konawe tahun 2003 pasca Razak
Porosi. Mendengar gagasan itu, perasaan yang sama juga terbetik di benak saya :
“Nur Alam belum saatnya menjadi Bupati”.
Meski, dalam kesempatan lain di waktu
itu, Nur Alam sendiri yang tiba-tiba menyatakan mundur (tidak ikut bertarung) sembari
berbisik ke telinga saya : “ah, tidak
jadi yus. Mending kita berangkat haji …”. Waktu itu kebetulan saya dan beliau telah mendaftar haji bersamaan, meski kemudian tidak berada dalam Kloter
(kelompok terbang) yang sama.
Sepulang dari haji, niat Nur
Alam untuk maju mencalonkan diri sebagai gubernur semakin bulat. Terutama atas
dukungan moral dari Amin Rais dan Hatta Rajasa, ia pun mulai mengambil
langkah-langkah kongkrit. Setelah mendapat restu dari pak Andry Djufry, paman
dari Istrinya yang telah dianggapnya orang tua sendiri, dan setelah berdiskusi
panjang dengan rekan-rekannya di PAN Sultra, termasuk dengan Arbab Paproeka,
Sukarman.AK, H. Rahman Saleh, Umar Samiun, Nur Amin dan lain-lain, Nur Alam
berangkat menemui Hatta Rajasa (Menteri Perhubungan RI) di Jakarta. Hatta Rajasa lalu mempertemukan Nur Alam
dengan mas Widhy di JSI (jaringan survey Indonesia) untuk memperoleh masukan-masukan
teknis terkait bagaimana memulai dan memenangkan pertarungan. Dari sini, Nur
Alam mulai mencetak berbagai alat peraga kampanye, termasuk Baliho, Sticker
tempel, leaflet, spanduk dan lain-lain, lalu memboyongnya pulang ke Kendari
untuk memulai gerakan penggalangan. Berikut ini adalah sekilas cerita dibalik
usaha keras Nur Alam untuk memenangkan Pemilukada Sultra sepanjang tahun 2006 –
2008.
(by Yusran Taridala, 2011)

















