Sabtu, 13 Oktober 2012



NUSA MENANGKAN PILKADA GUBERNUR SULAWESI TENGGARA

Pemilihan kepala daerah akan dilaksanakan pada tanggal 4 November 2012. Saat ini KPU Sultra telah memtuskan 3 Kandidat pasangan calon gubernur sultra periode 2013-2018 yakni Nur Alam-Saleh lasata (NUSA) , Ridwan Bae-HAerul Saleh (Arbae) dan Buhari Matta-Amirul Tamim (BM-Amirul).
Pilkada Gubernur Sultra kali ini memiliki jumlah daftar pemilih tetap (DPT) 1.301.738 suara dan 4.743 TPS yang tersebar di 12 Kabupaten.
 Rincian Jumlah DPT dan jumlah TPS yang tersebar di 12 Kabupaten sbb :
KOTA BAU-BAU  DPT 107.662 TPS 235
MUNA DPT 206.410 TPS 467
BOMBANA DPT 103.394  TPS 310
KONSEL  DPT 186.385  TPS 565
KOLAKA  DPT 237.990 TPS 791
KOLAKA UTARA  DPT 107.153   TPS 280
KONAWE DPT 178.755  TPS  497
KONAWE UTARA  DPT 38.970  TPS 172
KOTA KENDARI DPT 216.505 TPS 525
BUTON UTARA DPT 40.845  TPS 106
BUTON DPT 197.764 TPS 547
WAKATOBI  DPT 79.865 TPS 248

Popularitas Nur Alam sebagai Gubernur pertama Pilihan Rakyat Sultra akan dengan mudah mengalahkan pesaing-pesaingnya untuk kedua kalinya. Hal ini dibuktikan dengan kinerja Nur Alam pada Periode pertamanya dengan program BAHTERAMAS. 

Prediksi Quick Count

Prediksi Quick Count kali ini didasrkan pada analisa yang akan terjadi pada hasil pilkada kedepan. Pada prediksi Quick Count kali ini didasarkan pada metode sampling METODE PROPORTIONAL STRATIFIED RANDOM SAMPLING dengan tingkat kepercayaan 99%, Error sampling 0.1%. 
Jumlah TPS sampel adalah 105 sampel yang tersebar di 12 Kabupaten seluruh Sulawesi Tenggara.
Prediksi Quick Count ini hanyalah analisa diatas kertas dengan melakukan referensi Suvey yang telah dilakukan oleh lembaga Survey lainnya.
Hasil prediksi Quick Count diatas meja pasangan NUSA memperoleh suara 55.24% atau 719.055 suara, ARBAE memperoleh suara 20% atau 260.347 suara dan BM-Amirul memperoleh suara 25.71% atau 334.733 suara.

Minggu, 23 September 2012

Nur Alam Selayang Pandang
Lahir di Konda, Konawe Selatan, pada 9 Juli 1967, Nur Alam kecil dibesarkan dalam lingkungan keluarga sederhana, ditengah zitgeit alam pedalaman asri bersama tiang-tiang jenggala rindang yang penuh duri, tapi teguh memagari jalan-jalan setapak tak beraspal dan tak bernama. Di sebuah pondok berdiding papan sederhana di Konda, Nur Alam lahir dari rahim suci seorang perempuan biasa, Hj. Fatimah, diasuh dan dibesarkan oleh ayahnya, Isruddin Lanay, seorang Mantri Kehutanan di era Soekarno. Nur Alam kecil yang sering dipanggil Bolo - nama kakeknya itu,  tumbuh sebagai anak yang lincah dan gesit bersama anak-anak lainnya, dan selalu mengambil inisiatif lebih awal di depan sebelum yang lainya memulai sesuatu. Nur Alam kecil mendaftarkan diri ke SD Negeri Konda atas inisiatif sendiri, sebelum kemudian difasiitasi oleh orang tuanya.  Saat duduk di bangku kelas II hingga kelas VI SD, Nur Alam kecil menggunakan nama Andi di depan namanya, hingga menjadi Andi Nur Alam. Sayangnya gelar Andi itu, yang diberikan oleh salah satu pamannya yang beretnik Bugis, tak sempat dipakai Nur Alam seterusnya karena sang guru menghapusnya saat menulis ijazah terakhir usai menamatkan bangku SD.

Duduk di bangku SD Nur Alam kecil punya hobby memetik kelapa bersama kakak-kakaknya. Selain kelapa, ia jug sering ikut memetik buah kemiri dari kebun milik ayahnya untuk dijual kepasar. Dari sini, ia memperoleh uang receh untuk jajan, juga kadang buat mentraktir teman-temannya.

Nur Alam kecil mulai meretas kehidupan yang penuh dinamika ketika masuk SMP, tepatnya di SMP Negeri Ranomeeto. Selama setahun, nyaris setiap hari ia harus bolak balik berjalan kaki 5 km bersama anak-anak lainnya menempuh rute bolak balik Konda – Ranomeeto. Ia harus bangun subuh setiap harinya untuk mengejar waktu ke-sekolah. Berangkat ke sekolah pukul 5 subuh, suasana pedalaman ketika itu tentunya masih sangat gelap. Tapi ia tetap menembus dengan obor kecil.
Memasuki bangku kelas II, Nur Alam pindah ke SMP Negeri III Wua-Wua dan tinggal di rumah pamannya di Mandonga. Tinggal di sekitar pasar ‘lama’ Mandonga, Nur Alam kecil punya ide menarik. Sambil bersekolah, ia sewaktu-waktu pulang ke Konda memetik kelapa, kemiri dan hasil kebun lainnya untuk dibawa dan dijual kepasar. Dari sini, ia mendapatkan sedikit uang buat membiayai kebutuhan sekolah dan sebagiannya buat jajan di kantin sekolah.

Duduk di bangku SMP Nur Alam kecil mulai menunjukkan banyak talenta. Ia menjadi juara lomba pidato dan oleh gurunya ia ditunjuk mewakili SMP Negerri III Wua-wua untuk mengikuti lomba kepanduan (pramuka) tingkat Nasional di Cibubur, Jakarta. Sayang sekali, baru saja hendak merangkai talenta kepemimpinan di jalur kepanduan itu, Nur Alam kecil harus menerima nasib sedih. Ia ditinggal pergi sang ayah ketika masih berada di bumi perkemahan Cibubur. Beberapa hari kemudian ia kembali ke Kendari dalam status sudah yatim.

Tahun 1981 Nur Alam masuk SMA Mandonga. Di sekolah yang tergolong keren di Kendari saat itu, ia banyak bertemu teman baru, termasuk siswa-siswa tetangga di SMEA dan STM Negeri Kendari. Sebagai anak yatim yang telah ditinggal pergi sang ayah, ia mulai memikirkan kelanjutan sekolahnya nanti. Ia tak harus menambah beban ibundanya yang memang tengah hidup susah karena hanya mengandalkan gaji pensiun mendiang suaminya. “Saya harus belajar bisnis. Mama juga sudah setengah mati. Saya tidak boleh berhenti sampai SMA”, kenang Nur Alam saaat berkisah tentang masa-masa SMA-nya.  Ia lalu merintis usaha sablon kecil-kecilan. H. Nusu Ibrahim, salah seorang rekan Nur Alam di SMA Mandonga ketika itu pernah bercerita bahwa dulunya, i Bolo (Nur Alam maksudnya), punya usaha sablon. Ia kadang tidak masuk disekolah gara-gara sibuk mencari order di luar. Ia biasa mengerjakan undangan pesta, daftar gaji di kantor-kantor dan juga kartu-kartu KRS di kampus Unhalu kemaraya. “Kalo dapat sedikit untung, dia suka traktir kita di kantin SMEA..”, kenang H. Nusu yang sekarang menjadi anggota DPRD di Konawe.

Dari hasil usaha sablon kecil-kecilan, Nur Alam bisa memupuk modal dan membeli mesin fotocopy offset. Usaha percetakan offset ini mulai ditekuninya saat memasuki bangku kelas dua. Meski tetap mengikuti jadwal pelajaran di kelas seperti siswa lain, ia semakin sibuk mengurusi orderan di luar. Berbeda dengan banyak rekannya yang lebih senang hura-hura, Nur Alam ketika itu lebih banyak mencurahkan waktunya mengurus bisnis percetakan di luar jam sekolah. Ini terus dilakukannya hingga naik kelas tiga dan akhirnya tamat SMA Mandonga, lalu lanjut ke universitas Haluoleo di fakultas Ekonomi.

Memasuki jenjang kuliah, naluri bisnis Nur Alam semakin tumbuh. Ia mulai belajar kerja-kerja memborong sebagai kontraktor di PT. Pertiwi Agung pimpinan Umar Saranani. Di perusahaan ini, ia sering ditugaskan ke lapangan mengawasi pekerjaan proyek. Seorang rekan kerjanya, Abu, pernah bercerita bahwa sewaktu kerja di Pertiwi Agung, Nur Alam sering dipercaya pak Umar Saranani untuk membayar gaji karyawan, sambil mengawasi bahan-bahan proyek di lapangan.  Lama bekerja di perusahaan ini, Nur Alam lalu pindah bekerja di PT. Timbel Mas milik pengusaha Khairuddin Pondiu. Bakat bisnisnya semakin terlihat. Ia banyak membantu Khairuddin Pondiu menyiapkan administrasi perusahaan dan kelengkapan tender. Sibuk bekerja mengurusi proyek, ia tetap mengikuti kuliah di Fekon Unhalu seperti biasa.

Mendapat sedikit pengalaman jasa kontruksi di dua perusahaan tadi, secara diam-diam Nur Alam membuat perusahaan sendiri. Bersama kerabat dekatnya, Afiat Tawakkal, ia mendirikan PT. Tamalakindo Puri Perkasa, perusahaan yang dikemudian hari sukses menjadikannya pengusaha handal.  Setelah menyelesaikan studi di Fekon Unhalu, berkantor di sebuah rumah kontrakan di BTN DPR Wua-Wua, Nur Alam mulai merambah dunia kontraktor.  Ia mulai gencar melakukan loby-loby ke berbagai instansi pemerintah, termasuk di kampus Unhalu baru, Anduonohu. Memasuki tahun 1990-an, PT. Tamalakindi Puri Perkasa mulai dipercaya mengerjakan proyek-proyek kontraktual di Diknas Sultra, di Unhalu dan di bebarapa kantor pemerintah lainnya.

Waktu terus bergulir, talenta Nur Alam di dunia bisnis semakin bersinar, terutama setelah menggandengnya dengan dunia politik. Bersamaan dengan karir politiknya yang terus menanjak di PAN Sultra, ia mulai berkenal dengan beberapa elit pimpinan PAN di tingkat pusat. Tak main-main, ia mengakrabkan diri dengan Amin Rais (Ketua MPR-RI/Ketua DPP PAN), Hatta Rajasa (Sekjen PAN, Menteri Perhubungan), Bambang Soedibyo (Menteri Diknas), Yahya Muhaimin, Malik Fajar (Menteri Agama) dan sejumlah petinggi PAN lainnya di era presiden Gus Dur hingga SBY. Dari sini, ia mulai merambah proyek-proyek besar berskala nasional di beberapa daerah di Indonesia, hingga, konon, ditahun 1998-an saja, isi rekeningnya sudah mencapai angka milyaran rupiah. Pada tahun 2002, terkait dengan rencananya maju dalam suksesi Bupati di Konawe ketika itu, Nur Alam pernah memperlihatkan kepada saya sertifikat deposito atas nama dirinya senilai 7 Milyar. Saya sedikit terperanjat. “Ternyata benar isu selama ini, Nur Alam punya banyak duit’, bisik hati saya. Dan, “Itu baru satu lembar yus, masih ada beberapa lembar didalam..”, tambahnya, seolah berusaha meyakinkan saya yang ketika itu masih meragukannya.

Sebelumnya, bersamaan dengan karir bisnisnya yang terus menanjak, kiprahnya di dunia organisasi juga terus bersinar. Di beberapa organisasi profesi, ia dipercaya memimpin Gapensi (Gabungan Pengusaha Konstruksi) dan Kadinda (Kamar Dagang dan Industri Daerah). Selain itu, ia juga aktif di HIPMI, Ardin dan berbagai organisasi sosial lainnya. Setelah terpilih menjadi wakil ketua DPRD Sultra, ia dipercaya mengetuai KONI, organisasi olah raga prestisius yang biasanya dijabat oleh para pejabat penting di daerah. Karir organisasinya yang paling cemerlang tentu saja di Partai Amanat Nasional. Di Partai inilah, karir dirinya sebagai politisi terus menjulang, hingga akhirnya sukses mengantar dirinya menjadi gubernur orang nomor satu di Sultra.
  
Perjalanan Menuju 01 Sultra
        Beberapa hari setelah Mendagri melantik Nur Alam menjadi Gubernur Sultra, Kendari Pos, harian terbesar di Sultra,  melakukan wawancara exclusive dengan Nur Alam. Banyak pertanyaan penting yang diajukan wartawan Kendari Pos ketika itu untuk menggali informasi diseputar sepak terjang Nur Alam dalam meraih obsesi besarnya menjadi orang nomor satu di Sultra. Dan seperti biasa,  Nur Alam menjawab pertanyaan wartawan satu per satu dengan lugas, cerdas dan sistematis.  Salah satu pertanyaan pokok yang dijawabnya waktu itu adalah terkait dengan kunci sukses yang menjadi rahasia kemenangannya dalam pemilukada Sultra yang baru saja berlangsung.  Dikatakan oleh Nur Alam, seperti dilansir pada salah satu edisi Kendari Pos yang terbit sekitar akhir bulan Februari 2008, yang menjadi kunci sukses utamanya hingga berhasil meraih tahta Gubernur Sultra, sesungguhnya adalah kerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas dan kerja tuntas.  Dikatakannya : “Di Sultra yang terbatas media informasi dan komunikasi, kerja keras yang harus dilakukan adalah melakukan sillaturrahmi dari desa ke desa dalam kurun waktu yang cukup panjang. Saya mengunjungi kurang lebih 2.000 Desa. Sebanyak 70% desa tersebar di pedalaman atau pelosok yang sulit dijangkau. Tidak semua Desa bisa dilalui dengan kendaraan bermotor. Bahkan kadang-kadang saya berjalan kaki, naik kuda atau naik perahu kecil. Bayangkan saja, saya mengunjungi sebuah pulau yang membelah Laut Banda dengan ombak besar. Dan itu tingkat kesulitannya tinggi. Untuk itu dibutuhkan keseriusan dan kenekatan. Kerja keras itu tentu tidak akan berjalan dengan baik jika saya melakukannya dengan tidak ikhlas. Adalah manusiawi bila seseorang seperti saya punya obsesi dan ambisi. Ambisi dan obsesi itu bisa tercapai dan bisa saja tidak. Karena itu, perlu dilandasi dengan keikhlasan. Selain kerja keras, kerja ikhlas, juga harus cerdas melihat peluang-peluang yang bersifat internal dan eksternal. Terakhir, dalam bekerja harus tuntas. Saya tidak boleh berhenti atau menyerah menghadapi tantangan dan kesulitan..”.
         ‘Kerja dan terus bekerja’ adalah shortcut utama dari keseluruhan menu keberhasilan Nur Alam yang terekam dalam petikan hasil wawancara di atas. Sebuah perjalanan yang penuh liku, penuh duri, dan penuh keringat bercucuran di darat dan di lautan, telah membentang cukup panjang di pelupuk mata Nur Alam sebelum akhirnya bisa melenggang ke kursi gubernur secara elegan dan bermartabat. Inilah yang membuat dirinya tak bisa menahan isak tangis ketika di sore hari menjelang magrib pada hari ‘H’ pemungutan suara, Jaringan Survey Indonesia (JSI) pimpinan Mas Widy, memberinya informasi dini bahwa dirinya menang satu putaran atas pasangan calon gubernur lainnya. Meski belum ada pengumuman resmi dari KPU Sultra, tapi informasi dari JSI itu membuatnya yakin bahwa apa yang diperjuangkannya selama ini, selama bertahun-tahun, telah dikabulkan oleh Allah SWT. Di sore hari itu, ia pun menangis tersedu-sedu bak anak kecil di tengah para pengikutnya yang ikut menetaskan air mata. Sebuah perjuangan yang cukup panjang, telah mulai berbuah manis di pelupuk mata. Demikianlah, seperti sekilas tergambar pada lukisan peristiwa berikut ini.
          Sehari setelah Ali Mazi, SH dilantik sebagai Gubernur Sultra menggantikan Laode Kaimoeddin pada awal tahun 2003, Nur Alam memilih berangkat ke Jakarta. Sambil beristrahat dan menangani beberapa urusan bisnis yang sempat terbengkalai akibat terlalu lama concern mengurusi demo-demo anti money politic yang diduga dilakukan oleh Ali Mazi dalam pemilihan gubernur di DPRD Sultra, Nur Alam secara diam-diam mendatangi sebuah toko digital printing di Jakarta.  Di tempat itu ia ternyata sedang meminta dibuatkan sebuah Baliho kecil berukuran 80 x 100 cm yang bergambar foto dirinya. “Tulis dibawah foto itu, Nur Alam – Gubernur Sulawesi Tenggara Periode 2008 – 2013..”, pintanya pada designer grafis yang duduk menghadap computer di toko itu. 
         Beberapa hari berikutnya, Nur Alam kembali ke Kendari dengan membawa gulungan Baliho kecil tadi. Baliho itu lalu dipajangnya di belakang kursi biro di ruang kerja rumah pribadinya di Wua-Wua. Setelah itu, perlahan Ia mundur ke belakang dan duduk termenung seorang diri di atas kursi sofa sambil menatap dalam-dalam foto dirinya di atas kanvas Baliho tadi. Tak terkira air matanya menitik. “Ya Allah, kabulkanlah…”, bisiknya dalam hati terhenyuh setelah beberapa menit terbuai di dalam mimpi yang besar untuk menjadi orang nomor satu di Sultra.  Sesaat berlalu, konsentrasinya buyar setelah ibu Tina, istrinya, tiba-tiba muncul dengan sejemput tawa kecil yang bernada sinis :  “Hah, apa-apaan tuh pa’. Duuuh, papa ini ada-ada saja. Ali Mazi kan baru saja dilantik..”. Nur Alam tak meladeni sinisme itu, selain dengan senyum yang mengulum pahit. “Tak ada yang mustahil kalau Allah menghendaki ma’, cetusnya ringan sambil berlalu keluar kamar.
                Salah satu watak dasar Nur Alam dalam meraih sesuatu obsesi atau keinginan adalah bahwa ia takkan pernah mundur sejengkalpun dalam mengejarnya, sampai obsesi itu diketahuinya telah berhasil atau, sebelaiknya, telah gagal dicapainya.  Seperti kata pepatah  “Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”,  Nur Alam tak pernah mundur di tengah jalan bila telah menancapkan tekad untuk berjalan. Dalam bahasa Islam, watak seperti ini disebut oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an : ‘Faidzaa azamta, fatawakkal ‘alallah’, bila telah menetapkan sesuatu, maka berserah dirilah kepada Allah’. Demikianlah, ketika telah terlanjur menetapkan niat dalam hati untuk menjadi gubernur, Nur Alam tak pernah berhenti berhayal dan berfikir. Siang malam ia menghadirkan mimpi sedang berada di atas singgasana gubernur itu di pelupuk matanya. Dan ia tak pernah merasa risih ketika seringkali disindir oleh  rekan-rekannya yang sempat melihat baliho kecil di kamar kerja pribadinya. “Biarlah kalian mengejekku, tapi saya tidak akan berhenti..”, bisiknya dalam hati acap kali melihat rekan-rekannya saling mengedipkan mata usai membaca sebaris kalimat di baliho kecil tadi.
                Waktu terus berjalan, hingga pada suatu waktu di tahun 2004, atau sekitar 3 (tiga) tahun menjelang pelaksanaan Pilkada langsung pertama gubernur Sultra, dalam sebuah diskusi kecil di rumah pribadinya di Wua-Wua, Nur Alam sempat bergumam di depan saya dan beberapa teman lain yang kebetulan secara tak sengaja datang bersamaan ke ruang tamu bagian belakang  untuk sekedar bersillaturrahmi  : “Yus, saya mau maju menjadi calon gubernur. Saya sudah siap. Dan oya, dukunglah saya Yus, karena saya sudah melihat tanda-tanda bahwa saya akan menang..”. Kata-kata itu diucapkannya rileks dalam posisi berdiri dengan mengenakan celana puntung.  Jujur, kata-kata itu tak menarik bagi saya. Karena, waktu itu, saya tak melihat peluang yang cukup mungkin bagi seorang yang masih terlalu hijau seperti Nur Alam untuk bisa menjadi gubernur, apalagi harus melawan calon incumbent sekuat Ali Mazi. Sementara, waktu itu, Nur Alam hanya menyandang jabatan Wakil Ketua DPRD Sultra. Setahun sebelumnya, di tempat yang sama, Nur Alam juga pernah mencoba melontarkan gagasan untuk ikut maju dalam Pilkada Konawe tahun 2003 pasca Razak Porosi. Mendengar gagasan itu, perasaan yang sama juga terbetik di benak saya : “Nur Alam belum saatnya menjadi Bupati”.  Meski, dalam kesempatan lain di waktu itu, Nur Alam sendiri yang tiba-tiba menyatakan mundur (tidak ikut bertarung) sembari berbisik ke telinga saya : “ah, tidak jadi yus. Mending kita berangkat haji …”.  Waktu itu kebetulan saya dan beliau  telah mendaftar haji bersamaan, meski kemudian tidak berada dalam Kloter (kelompok terbang) yang sama.
                Sepulang dari haji, niat Nur Alam untuk maju mencalonkan diri sebagai gubernur semakin bulat. Terutama atas dukungan moral dari Amin Rais dan Hatta Rajasa, ia pun mulai mengambil langkah-langkah kongkrit. Setelah mendapat restu dari pak Andry Djufry, paman dari Istrinya yang telah dianggapnya orang tua sendiri, dan setelah berdiskusi panjang dengan rekan-rekannya di PAN Sultra, termasuk dengan Arbab Paproeka, Sukarman.AK, H. Rahman Saleh, Umar Samiun, Nur Amin dan lain-lain, Nur Alam berangkat menemui Hatta Rajasa (Menteri Perhubungan RI) di Jakarta.  Hatta Rajasa lalu mempertemukan Nur Alam dengan mas Widhy di JSI (jaringan survey Indonesia) untuk memperoleh masukan-masukan teknis terkait bagaimana memulai dan memenangkan pertarungan. Dari sini, Nur Alam mulai mencetak berbagai alat peraga kampanye, termasuk Baliho, Sticker tempel, leaflet, spanduk dan lain-lain, lalu memboyongnya pulang ke Kendari untuk memulai gerakan penggalangan. Berikut ini adalah sekilas cerita dibalik usaha keras Nur Alam untuk memenangkan Pemilukada Sultra sepanjang tahun 2006 – 2008.
(by Yusran Taridala, 2011)
BRIGADE NUR ALAM  SOSIALISASIKAN NUSA DI SELURUH KEC. KOLAKA


Brigade News-Kolaka. Brigade sebagai organisasi sayap diluar dari garis partai tetap solid dan semangat untuk tetap mensosialisasikan pasangan NUSA (Nur Alam-Saleh Lasata). Hal ini disampaikan oleh HUMAS BRIGADE NUR ALAM, Junarlin di Kantor Brigade mengatakan bahwa " Brigade telah mampu mensosialisasikan pasangan NUSA disemua kecamatan di Kabipaten Kolaka dengan waktu yang hampir 2 bulan ini, dari semua kecamatan yang dikunjungi hampir pasti semua masyarakat dikecamatan tersebut akan memberikan hak suaranya kepada Pasangan NUSA". 
Mengingat dikolaka ada calon lain seperti BM (Bupati Kolaka) dan Haerul Saleh (Golkar) tetapi bukan rintangan atau halangan untuk brigade. Menurut Wakil Ketua Umum Brigade Nur Alam Andi Syahruddin mengtakan bahwa Kedua calon Kolaka Tersebut memang figur tetapi pasangan NUSA tetap menjadi figur yang ideal untuk Gubernur Sulawesi Tenggara Periode 2013-2018 karena sudah terbukti akan kinerja sebagai Gubernur dan wakil Gubernur Sultra". Kedepan Brigade akan tetap melakukan sosialisi sampai ketingkat RT/RW. (Lin)

Kamis, 20 September 2012

Survey JSI : Nur Alam Dibayangi Ali Mazi
Written by Ery Gusman   
Wednesday, 13 June 2012
KENDARINEWS.COM - Kendari, Mengeliminir informasi yang salah atas berbagai hasil survey yang marak beredar di masyarakat, lembaga survey Jaringan Suara Indonesia (JSI) kemarin (12/6) mengeluarkan hasil surveynya (ekspose) menyangkut keterkenalan dan dukungan terhadap kandidat gubernur dan wakil gubernur Sultra. Pemaparan laporan hasil survey dilakukan Direktur Strategi JSI, Popon Lingga Geni dihadapan sejumlah media, pada salah satu rumah makan di Kendari.
Berdasarkan hasil survey menggunakan teknik sampling multistage random sampling dengan sampling error tidak lebih 0,9 persen. JSI merilis 11 nama kandidat gubernur yang disurvey per Juni 2012 yaitu Nur Alam persentase pengenalan 53,18 persen, Ali Mazi 15,4 persen, La Ode Ida 13,06 persen, Buhari Matta (BM) 10,36 persen, Ridwan BAE 5,3 persen, Amirul Tamim 0,9 persen, La Ode Songko Panatagama 0,7 persen, LM Sjafei Kahar 0,6 persen dan Imran 0,4 persen.  Yang mana Nur Alam sangat dikenal di zona III,IV dan V serta kurang di Zona I dan II.

Persentase tingkat pengenalan tersebut juga dilihat dari segi distribusi dukungan kandidat menurut kategori desa/kota, jenis kelamin, agama, suku dan umur.  Disurvey pula distribusi dukungan kandidat menurut pendidikan, pendapatan, partai pilihan hari ini dan zona Dapil KPUD.

"Menariknya pemilih Golkar terbanyak memilih Nur Alam yaitu 35,9 persen, Ali Mazi 22 persen sedangkan Ridwan BAE hanya 10,5 persen, Nur Alam hanya kalah di zona V yaitu Muna dan Butur.  Untuk suku Nur Alam meningkat di Buton, Tolaki dan Jawa serta kurang di Bugis," lanjutnya.

Dari sisi penilaian kemampuan kandidat gubernur, penanganan korupsi Nur Alam yang tertinggi yaitu 26,6 persen dari empat kandidat lainnya meliputi Ali Mazi, Buhari Matta, La Ode Ida dan Ridwan BAE, begitu pula dengan pembangunan jalan yang mencapai 33,9 persen. 

Untuk kandidat wakil gubernur, JSI melakukan survey terhadap Saleh Lasata, Lukman Abunawas, Hugua, La Ode Djeni Hasmar dan Zainal Abidin.  

Selain itu JSI juga melakukan survey isu program incumbent dan survey trend kepuasan atas kinerja incumbent Maret 2011, Januari 2012 dan Juni 2012.  Yang mana program blockgrant sangat puas dan cukup puas 60 persen, kurang puas dan tidak puas sama sekali 34,7 persen serta tidak tahu dan tidak jawab 5,4 persen.  Program pendidikan gratis sangat puas dan cukup puas 65,7 persen, kurang puas dan tidak puas sama sekali 30,2 persen serta tidak tahu dan tidak jawab 4,0 persen. Program pengobatan gratis sangat puas dan cukup puas 69,8 persen, kurang puas dan tidak puas sama sekali 28,4 persen serta tidak tahu dan tidak jawab 1,9 persen.

"Khusus isu pembangunan RSUD di Kecamatan Baruga, tidak pernah mendengar 61,6 persen, pernah mendengar 36,5 persen serta tidak tahu dan tidak jawab 1,9 persen,"bebernya.(fas)

KENDARI POS

Kamis, 13 September 2012

KEGIATAN BRIGADE NUR ALAM



















BRIGADE GUBERNUR ALAM OPTIMIS MENANG DI KOLAKA


Brigade gubernur alam adalah sebuah organisasi yang didirikan pemuda-pemudi sekabupaten kolaka yang mendukung sepenuhnya  H.NUR ALAM.SE untuk maju yang ke 2 kalinya memimpin Sulawesi tenggara masa priode 2013-2018,organisasi ini adalah sebuah gabungan seluruh elemen masyrakat khususnya pemuda-pemudi  yang berdomisili di kolaka tanpa terkecuali.saat diwawancarai di kantor  brigade gubernur alam ABD.HARIS.S.Sos (koordinator lapangan brigade gubernur alam)  haris yang seorang alumni universitas sembilas belas November kolaka ini mengatakan brigade gubernur alam adalah garda terdepan yang mendukung  H.NUR ALAM.SE untuk memimpin Sulawesi tenggara yang ke 2 kalinya,haris juga mengatakan siapapun bisa bergabung di brigade gubernur alam ini yang penting mengutamakan toleransi,dan optimis memenangkan  H.NUR ALAM.SE di kolaka,dan untuk menciptakan Sulawesi tenggara agar lebih baik,haris juga mengatakan pilihlah pemimpin yang energik,karena Sulawesi tenggara sangat luas,yang terdiri dari kepulauan dan daratan,yang jarak tempuhnya tidak semudah membalikkan telapak tangan,haris juga di selah-selah wawancara,mengatakan sudah 12 kecamatan dan 114 desa dan kelurahan mereka kunjungi untuk melaksanakan sosialisasi H.NUR ALAM SE untuk maju yang ke2 kalinya dengan ucapan “ALLHAMDULILLAH” tak satupun hambatan yang mereka lalui karena pak H.NUR ALAM.SE masih bisa diterima di hati masyrakat dengan program bahteramas,pengobatan gratis,sekolah gratis dan bantuan blockgren yang 80% bisa dirasakan masyrakat kelurahan dan desa, BRIGADE guberNUR ALAM  ,tak lupa mengucapkan selamat idhul firi 1433 hijriah mohon maaf lahir dan batin.” Momentum penting ini semakin memantapkan barisan muda brigade untuk berjuang  memenangkan gebernur alam  pada pilgub mendatang”.

Pidato Ketua Umum Brigade Nur Alam




SAMBUTAN KETUA UMUM BRIGADE GUBERNUR ALAM
PADA KEGIATAN KUNJUNGAN GUBERNUR SULTRA
DIMARKAS BESAR BRIGADE KOLAKA

Assalamu’alaikum wr. wb.

Salam brigade – menang
Gubernur alam – lanjutkan
Yth Bapak gubernur sulawesi tenggara berserta rombongan
Yth Bapak unsur tni dan polri, anggota dprd,tokoh agama, tokoh masyarakat
Yth Masyarakat kolaka yang sangat antusias utk hadir pada hari ini
Yth Saudara-saudara tim-tim sukses maupun tim relawan serta rekan-rekan pengurus brigade gubernur alam yang selalu setia setiap saat utk tetap semangat berjuang memenagkan gubernur alam.

Puji syukur tentunya kita panjatkan kehadirat Allah swt, Tuhan alam semesta, atas karunia-Nya sehingga kita diberi kekuatan lahir - batin dalam melaksanakan tugas dan kewajiban kita.
Selamat datang bapak gubernur sulawesi tenggara beserta rombongan serta bapak-ibu masyarakat kolaka dan saudara-saudaraku sekalian yang hadir di markas besar brigade gubernur alam. sebuah markas besar untuk kita semua dalam melaksanakan perjuangan memenangkan bapak Nur Alam untuk tetap lanjutkan kepemimpinan beliau sebagai gubernur sulawesi tenggara periode 2013 – 2018.

Bapak & Ibu serta saudara-saudaraku sekalian!!!
Brigade adalah barisan pergerakan generasi muda kolaka yang bangkit dan bersatu bersama rakyat memperjuangkan cita-cita sosial yang hidup laksana api unggun. brigade gubernur alam didirikan oleh generasi muda kolaka yang didasarkan pada keinginan besar masyarakat agar Bapak Nur Alam dapat melanjutkan kepemimpinan gubernur sulawesi tenggara periode 2013-2018, dalam mewujudkan hal tersebut maka brigade dihadapkan dua pilihan apakah ikut dalam pentas demokrasi politik pilkada gubernur sulawesi tenggara atau diam membisu melihat pentas demokrasi itu berlangsung.
dengan tegas brigade mengatakan kita tidak boleh diam. brigade harus aktif terlibat dalam pentas demokrasi pilkada gubernur sulawesi tenggara tersebut walaupun banyak halangan dan rintangan yang harus dilalui sehingga dengan keterlibatan brigade setidaknya ikut membawa angin segar dalam  membawa pemimpin yang pro rakyat menang di jazirah sulawesi tenggara ini yang tentunya dapat mewujudkan dan membangun masyarakat sejahtera di provinsi sulawesi tenggara .
Atas dasar itulah brigade akhirnya, mencemati dan menelaah daripada kinerja bapak nur alam sebagai gubernur sulawesi tenggara sampai saat ini ternyata telah mampu memberikan kemajuan yang sangat baik dalam menata  pembangunan sultra serta dapat membangun kesejahteraan masyarakat sulawesi tenggara kearah yang lebih baik.

Disisi lain bahwa dalam kepamimpinan gubernur alam juga telah membawa perubahan disulawesi tenggara dimana perubahan itu tidak hanya ditingkat birokrasi tetapi juga pada perubahan dibidang ekonomi kerakyatan, inilah  yang menunjukkan bahwa beliau mewujudkan pemerintahan yang pro rakyat. kita harus akui juga bahwa program bahteramas (bangun kesejahteraan masyarakat) yang didalamnya terdapat tiga pilar yaitu pendidikan gratis sekolah SD, SLTP dan SMU/SMK, bantuan dana block grand dan biaya kesehatan gratis telah dirasakan langsung oleh masyarakat sulawesi tenggara. seperti kita ketahui bersama bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja bapak nur alam akan program bahteramas sangat  tinggi, bisa di lihat dari hasil survey jsi beberapa waktu lalu yang mana program blockgrant sangat puas dan cukup puas 60 persen, program pendidikan gratis sangat puas dan cukup puas 65,7 persen, program pengobatan gratis sangat puas dan cukup puas 69,8 persen. berarti dalam kepemimpinan bapak nur alam selama ini bisa dikatakan sangat sukses karna program bhateramas yang terdiri tiga pilar tersebut sangat dirasakan langsung oleh masyarakat sulawesi tenggara. berarti tidak ada lagi keraguan dan alas an bagi kita untuk tidak mendukung beliau sebagai gubernur sulawesi tenggara untuk periode keduanya.

Untuk itu brigade gubernur alam sebagai barisan pergerakan generasi muda kolaka akan bersatu memenangkan bapak Nur Alam di kabupaten kolaka. dalam memenangkan bapak nur alam di kabupaten kolaka brigade kolaka memiliki visi “ bersama masyarakat kolaka memenangkan mutlak gubernur alam periode 2013-2018 di kab.kolaka”. dengan misi “ sosialisasi lanjutkan gubernur alam dan mengkampanyekan kesuksesan program bahteramas. disisi lain juga bahwa brigade memiliki program melantik ribuan brigade gubernur alam se kabupaten kolaka.
Maka daripada itu brigade mengajak seluruh lapisan masyarakt kabupaten kolaka mari bersatu padu mendukung bapak gubernur alam untuk tetap melanjutkan kepemimpinan gubernur sulawesi tenggara periode 2013-2018 serta mendukung program pembangunan dan bahteramas sehingga tercipta  suatu masyarakat yang tiap-tiap manusia di daerah sulawesi tenggara merasa bahagia, suatu masyarakat yang tiada seorang ibu menangis oleh karena tidak bisa memberi air susu kepada anaknya, suatu masyarakat yang tiap-tiap orang menjadi cerdas, suatu masyarakat yang benar-benar membuat daerah ini, suatu daerah yang terdiri dari pada ratusan ribu insan alkamil yang hidup dengan bahagia dibawah kolong langit bauatan allah swt. terima kasih.
Sebelum saya tutup sepatah kata ini saya mohon kiranya agar bapak gubernur Alam dapat meluangkan waktunya untuk membubuhkan tandatangan dibawah struktur kepengurusan mabes brigade nur alam kabupaten kolaka yang telah disediakan sekaligus dirangkaikan sematan pin brigade nur alam kepada perwakilan pengurus brigade nur alam.
wassalamu alaikum wr.wb.
KETUA UMUM BRIGADE
GUBERNUR ALAM
TTD,
SARLIN SYAMSUDDIN D,ST